Kicau ricuh beraneka ragam vocal membahana di ruangan kelasku. Sungguh memengakkan telinga yang terkontaminasi suara pekikan, teriakan, dan entah apalagi. Sudah hampir setengah jam kami menunggu dosen untuk mata kuliah pagi. Tapi dosen yang tunggu-tungggu belum juga menampakkan batang hidungnya yang menciut itu. Aku memilih untuk duduk diam di sudut kelas tanpa ikut meramaikan suasana kelasku yang hampir mirip pasar Minggu.
Kucoba untuk mengamati beraneka tingkah yang dilakukan teman-teman kuliah yang sudah bersamaku selama dua tahun di jurusan Keperawatan ini. Mereka sudah lumayan lama menjadi mahasiswa tapi tetap saja perilaku mereka tak ubahnya seperti anak SMA. Kulayangkan pandangan dan entah mengapa untuk kesekian kalinya ekor mataku langsung tertuju lagi pada sosok yang sedang terpekur menikmati sajian buku medis di depannya. Kucoba alihkan pandanganku, tapi tetap saja tak berapa lama kemudian pandanganku tertuju lagi pada cowok berkacamata itu.
Hatiku seperti terhujam sembilu saat mata ini harus memandanginya dari jauh. Itu kah Deva yang dulu sangat begitu dekat denganku? Seperti inikah sikapnya setelah sekian lama aku hempaskan hatinya ke samudra tanpa rasa? Kucoba terus telusuri tiap lekuk wajah dan bayangannya yang kian menjauh saja bagiku. Hatiku terlampau perih untuk memandangnya tapi kenapa…kenapa mata ini seolah tak mau tahu posisi hatiku? Saat pandanganku telah tertuju ke matanya yang tajam, tanpa kuduga dia telah mendonggakkan wajahnya ke arahku. Aku tersigap. Kucoba untuk tersenyum tapi lihatlah apa yang dibalasnya untuk sikapku. Dia langsung menunduk lagi seolah aku ini sampah yang penuh berisi kotoran.
Memang aku yang salah. Aku yang telah tega melemparkan bayangannya ke lembah yang curam dari manisnya hariku bersama pujaanku. Aku yang salah karena disaat beribu perhatian dan kasih sayang yang dicurahkannya padaku, aku telah tega membuangnya ke sumur keacuhan demi cinta seorang sang belahan jiwa. Ya, aku yang salah…. Jadi inikah balasannya saat kekasih hati yang kubangga dulu telah pergi meninggalkanku. Inikah imbalan sikapnya atas kesendirian menyapaku ditinggal pergi sang pujaan hati. Aku hanya bisa larut dalam buliran sesal yang mulai menyelimuti pelupuk mata dan hatiku.
∞∞∞
Kisah sesalku ini bermula semenjak aku memasuki bangku kuliah dua tahun yang silam. Pertemuanku dengan seorang cowok yang sama sekali tak istimewa di mataku. Saat memasuki ospek, aku berkenalan dengan seorang cowok yang sama sekali gak gaul, modis, menawan, tampan, ataupun tajir. Perawakannya tinggi dan kurus, dengan kulit berwarna sawo matang yang melapisi seluruh tubuhnya. Meskipun bagitu penampilannya terlihat rapi dengan kesederhanaan dan mata elang tersembunyi di balik kacamata berbingkai hitamnya. Saat dia mengajakku berkenalan memang ada terasa kehangatan selang kami berjabat tangan dan mulai menyebutkan nama masing-masing. Dengan senyum tulusnya, dia memperkenalkan diri dengan nama Deva Pramulya Putra. Tapi hanya sebatas itu dan tak membuatku tertarik mengenalnya lebih lanjut.
Pesonaku saat itu malah tertuju pada seorang cowok yang menjadi kakak tingkatku sekaligus panitia ospek. Sejak pertama kali melihatnya aku langsung menaruh simpati padanya. Sikapnya yang ramah dan terlihat dewasa membuatku semakin mengaguminya. Entahlah ada desir aneh yang mencoba mengetuk pintu hatiku saat melihatnya. Semakin aku ingin mengenalnya, perasaan itu mencoba menjamah kisi hatiku dan berhasil memenuhi tiap rongga kosong di relungku. Dan akhirnya yang kuinginkan saat itu hanya bagaimana caranya agar aku bisa lebih dekat dengan seseorang yang bernama Arvian Ardeka Ardawan itu. Namanya pun mulai tertancap kuat di tiap lembar dinding hatiku. Hingga membuatku ingin selalu dekat dengannya. Dan usahaku tak sia-sia. Kak Arvian pun sejak berkenalan juga menunjukkan sikapnya yang lebih perhatian padaku dibandingkan dengan mahasiswi baru lainnya. Sikap Kak Arvian yang menjadi dekat denganku membuatku semakin menggilainya. Hingga aku berharap suatu saat nanti perasaanku bisa bersambut di hatinya.
Setelah selesai menempuh ospek yang lumayan berat, aku mulai memasuki hari pertama kuliah. Aku memasuki jurusan keperawatan seperti keinginanku dan ternyata universitas yang kupilih memiliki mahasiswa baru yang sangat banyak. Mahasiswa di jurusanku dibagi menjadi beberapa kelas yang masing-masing kelas berjumlah empat puluh orang. Saat aku mulai berkenalan dengan taman-teman baruku, aku terkejut saat mendapati Deva ternyata satu kelas denganku. Awalnya aku tak menyadari hal itu kalau saja dia tidak dengan lugasnya bicara di depan semua orang saat hari pertama kuliah. Aku mulai terpana dengan sikapnya yang berwibawa, supel, dan cerdas berhadapan dengan semua orang termasuk dosen-dosen yang mengajar di kelas kami. Aku juga merasakan hampir semua orang yang melihatnya seakan terhipnotis dengan kata-kata dan gerak tubuhnya yang menakjubkan di depan kelas. Dan aku pun mulai mengakui ada aura berbeda yang dimiliki Deva dibandingkan teman-temanku yang lain. Seseorang yang begitu teduh dan menenangkan bagi siapa saja yang mengenalnya.
Tapi kala itu kekagumanku pada Deva ternyata tak sanggup menandingi kekagumanku pada sosok yang kusebut sebagai pujaan hati, Kak Arvian. Usahaku untuk bisa selalu dekat dengan Kak Arvian saat ospek dulu ternyata dua bulan kemudian berbuah manis. Aku dan Kak Arvian resmi menjadi sepasang kekasih seperti mimpiku dulu. Meskipun hubungan kami terpaksa aku sembunyikan karena ada teman asramaku yang begitu menggilai kekasih hatiku. Aku bukan cewek yang tega melukai hati temanku demi diketahuinya hubungan spesialku seantero kampus. Tak mengapa bagiku asalkan hati Kak Arvian telah kurengkuh dalam hidupku.
Dan di saat hari-hari indah kusemai bersama Kak Arvian, Deva merengsek masuk ke dalam hidupku. Memang awalnya aku menganggap biasa semua yang dilakukannya terhadapku tapi lama-lama aku mulai merasakan suatu yang berbeda dari Deva. Di setiap tugas dan ujian, Deva tak pernah lupa untuk mengingatkanku. Deva juga tak pernah alpa untuk mengingatkanku tentang kewajiban sholat lima waktu. Deva pula lah yang setiap malam melalui pesan singkatnya selalu memberikan motivasi dan semangat untukku dalam menempuh kuliahku yang cukup berat. Di saat menghadapi ujian semester, Deva yang selalu berada di sampingku untuk membantuku kalau gak bisa menjawab soal-soal sulit dari dosen. Ketika mengikuti TOEFL, Deva dengan telaten membimbing dan mengajariku untuk mendapatkan nilai yang tinggi seperti dirinya. Bahkan ada suatu waktu, aku jatuh sakit sehingga tidak bisa mengikuti pertemuan TOEFL dan Deva dengan panik langsung menjengukku dan menunda pertemuan kelompok sampai aku kembali sehat.
Sejak saat itu aku menyadari sikap Deva berbeda padaku, apalagi temanku kemudian mengatakan kalau Deva memang menaruh hati padaku. Setelah mengetahui perasaan Deva, aku malah menyuruh Kak Arvian untuk mengatakan pada semua orang bahwa kami adalah sepasang kekasih. Entah mengapa, bagiku saat itu perasaan Deva tidak begitu penting dibandingkan hubungan spesialku dengan Kakak tingkat yang popular itu. Aku merasakan terlindungi dengan hadirnya Kak Arvian dibandingkan Deva berada disisiku. Dan tanpa memperdulikan seperti apa perasaan Deva, aku dengan bangganya mengatakan bahwa akulah kekasih hati bintang kampus. Tanpa menghiraukan sedalam mana perhatian dan kasih sayang Deva padaku, aku dengan bahagianya menjalani hariku dengan telah memiliki sosok yang menawan bagi kaum hawa di kampusku.
Memang kusadari ada gurat luka di wajah tangguh Deva saat mengetahui hubunganku dengan Kak Arvian. Tapi hatiku mungkin sudah tak punya mata lagi saat itu sehingga dengan entengnya aku bisa menggubrisnya dengan selalu menghadirkan pesona Kak Arvian di hatiku. Dan sejak saat itu, hubunganku dan Deva terasa sangat jauh. Aku terlalu asyik menikmati semilir waktu bersama Kak Arvian dan tak berniat menyadari sikap Deva yang semakin menjauh. Aku tak pernah mencoba untuk mengusik hidupnya yang seperti menghilang tanpa jejak dari peraduan hidupku. Kami seperti kehilangan kontak, meskipun berada dalam satu kelas jarak kami layaknya bumi dan langit saja saking tak bisa terjamahkan. Tapi lagi-lagi aku tak pernah memperdulikan keadaan itu. Bagiku saat itu ada tidaknya Deva di jalan hidupku tidaklah penting. Asalkan aku bisa menggandeng tangguhnya tangan Kak Arvian, itu sudah lebih dari cukup bagiku.
∞∞∞
Lembaran kisah itu telah berlalu dua tahun yang lalu. Pikirku akan banyak kenangan manis yang kucetak bersama hangatnya kehadiran Kak Arvian. Ternyata itu semua hanya mimpi kosong di pagi hari yang mengecewakan mata yang telah terlampau lelap. Aku memang mereguk kisah kasih indah bersama Kak Arvian dengan menumbalkan Deva dari hidupku. Tapi aku tak mengerti ternyata karma menjalankan kodratnya di hidupkku.
Dua tahun bersama tak membuat Kak Arvian kukuh untuk mempertahankan cerita cinta kami. Ketika dia dinyatakan lulus sebagai sarjana keperawatan dari kampusku, dia pergi ke kampung halamannya sambil menenteng ijasah sarjana di pundaknya. Bersama kepergiannya, ditanggalkannya pula lah cinta kami yang dulu begitu merekah dan semerbak. Dengan langkah santai dia meninggalkanku dengan mengucapkan kata perpisahan yang begitu tragis tercantum di hatiku. Aku hampir tak percaya menyakini kenyataan kalau kisah cintaku berakhir menyakitkan seperti ini. Aku pikir Kak Arvian yang begitu mencintaiku akan menungguku untuk mendapatkan gelar sarjana yang sama seperti dirinya. Aku pikir Kak Arvian yang dulu begitu menyayangiku akan menantiku sampai aku mendapatkan title strata satuku.
Namun itu semua hanya buaian lagu yang pita suaranya sudah rusak termakan waktu. Aku hanya mampu mendekam kesunyian dalam kepedihanku saat beberapa minggu Kak Arvian wisuda, dia telah menggelar dengan meriah pesta pernikahannya. Aku tak peduli siapa wanita yang telah dilamar Kak Arvian, tapi tak bisa terbayangkan urat hatiku di hancurkan dengan pedang tajam mendengar berita itu. Bahkan undangan pernikahannya telah terpajang di meja dosenku. Tak pernah kuduga secepat itukah peralihan hati orang yang sangat kucinta. Tak pernah kuduga seperti debur buih di pantai saja kah cinta seorang Kak Arvian padaku.
∞∞∞
Dalam keterpurukan nasib cintaku, entah kenapa bayangan Deva tiba-tiba hadir di setiap pikiranku yang lelah belakangan ini. Bayangannya mulai menghiasi mimpiku yang begitu suram karena ulasan hampa kisi hatiku. Senyumnya saat pertama kali berkenalan itu mulai merengsek masuk di setiap aktivitasku. Bahkan wajah teduhnya mulai menemani di setiap harap dan doaku. Kekagumanku padanya muncul mengumbar begitu saja tanpa bisa kucegah. Hingga sekarang pandanganku tak bisa lepas dari gerak tubuh dan santun bicaranya.
Tapi ternyata Deva sekarang ini bukanlah Deva yang dulu pernah selalu berada di sisiku tanpa kusadari. Telah terjadi perubahan yang luar biasa pada dirinya yang aku sendiri tak tahu kenapa seperti itu. Sekarang Deva sangat menjaga pandangannya. Cara dia berkenalan dengan cewek pun sangat berbeda seperti saat dia berkenalan denganku dulu. Dia selalu menangkupkan tangan ke dada saat berkenalan dengan cewek, hal yang sangat jauh berbeda ketika dulu dia pertama kali menjabat tanganku. Suara lembutnya pun sungguh mengetarkan hati saat mengumandangkan adzan di mesjid kampus. Sikapnya yang begitu santun dan hormat membuat para dosen begitu menyayanginya. Hampir setiap orang yang mengenal Deva sekarang dibuat kagum karena sosoknya yang begitu ramah, cerdas, membaur, dan religius.
Deva telah menjadi seorang aktivis keislaman kampus yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan seminar dan dikusi keislaman lainnya. Deva dengan semangatnya selalu menghimbau teman-teman di kampusnya untuk selalu mengikuti setiap kegiatan keislaman yang diurusnya. Deva yang menjadi ketua kelompok studi Islam terbesar di kampusku. Deva pula yang mengetuai berbagai kegiatan Islam yang diselenggarakan di kampus maupun diluar kampus. Deva juga selalu menjadi terdepan dan berperan utama untuk menggalang kegiatan membantu sesama yang menghadapi bencana alam atau kekerasan yang dialami umat Islam. Deva yang begitu antusias memimpin kampanye pemerangan narkoba, AIDS, kemaksiatan, dan semacamnya. Dia bahkan tercatat sebagai mahasiswa teraktif dalam melakukan kegiatan sosial di berbagai lembaga.
Aku hampir tak mempercayai perubahan drastis pada diri Deva. Melihatnya yang sungguh berbeda membuat sesuatu yang begitu menyesakkan di rongga dadaku. Inikah Deva yang dua tahun lalu begitu peduli padaku. Tapi sekarang begitu mengacuhkanku. Dia bahkan hanya akan bicara padaku saat membahas materi kuliah atau mengajak mengikuti kajian keislaman. Inikah balasannya padaku karena ketidakacuhanku, ketidakpedulianku terhadap perasaannya itu. Inikah perubahan yang dihadirkan Deva untuk membalas sikap angkuhku dulu? Tak terasa bulir hangat kembali menyentuh pipiku. Aku tak kuasa menahan kepedihan karena sesal yang terus menghimpit peraduan hatiku.
Aku mulai berharap suatu saat nanti, ada terbuka celah bagiku untuk meminta maaf pada Deva atas kesalahanku dulu. Aku berharap hati Deva telah sembuh dari cabikan sembilu yang kutorehkan karena keegoisan hatiku. Dan aku sangat berharap masih ada sedikit ruang kecil di hatinya yang masih menyimpan namaku. Yang mungkin sekarang kuyakin rengkuhan iman telah meliputi sebagian besar ruang di hatinya. Tapi aku akan tetap berharap suatu saat nanti namaku tak lapuk dari dinding terkecil dari bagian lembaran hatinya. Hingga nanti ada jalan halal untukku memperbaiki kesalahan fatal yang kubuat di hatinya.
Beribu maafku yang tak terperi untuk hati yang telah kuhempaskan dari singgasananya.
Surakarta, 3 Desember 2010